PERJALANAN
MENUJU PERANTAUAN
source : https://citraindonesia.com
TEMANGGUNG
– Libur lebaran telah usai, saatnya
semua masyarakat di Indonesia untuk kembali menjalani aktivitas sehari – hari
seperti biasa. Begitupun dengan saya, saya sebagai seorang mahasiswa rantauan
harus kembali ke rumah kedua saya yaitu kos - kosan untuk menjalani aktivitas
perkuliahan. Rumah saya sendiri berada di Kabupaten Temanggung dan tempat saya
kuliah yaitu berada di Universitas Negeri Semarang. Hari itu Minggu (9/6) saya
melakukan perjalanan mudik ke kampus.
Berangkat
dari rumah pukul 16.00 saya mengendarai sepeda motor. Waktu pemberangkatan yang
sudah sore membuat saya harus mengenakan jaket berlapis mengingat cuaca di
sekitar Kabupaten Temanggung yang dingin bagaikan kutub. Masker, kaus tangan,
serta helm tidak lupa untuk dikenakan dengan tujuan kehangatan dan keamanan.
Setelah keluar dari jalan desa saya disambut suara gemuruh kendaraan pemudik
yang sedang melakukan arus balik. Keringat di badan seketika bercucuran karena
panasnya kondisi jalan yang dipadati kendaraan. Semua pengendara harus sabar
dan meikmati kemacetan yang terjadi.
Sesampai
di jalan alternatif sumowono tubuh berubah agak menggigil karena suhu udara
yang rendah di daerah pegunungan. Kabut tebal menyelimuti jalan yang dilewati,
jarak pandang yang terbatas membuat pengendara harus menurunkan kecepatan.
Sampai di daerah bandungan disambut dengan meriahnya kelap – kelip lampu di
sepanjang jalan. Membuat perjalanan menjadi sedikit terhibur walaupun kondisi
jalan padat merayap.
Tepat
pukul 20.00 saya sampai di tempat perantauan dengan kondisi badan yang lemas
karena capeknya mengendarai sepeda motor di kondisi macet. Waktu tempuh yang
biasanya sekitar 2 jam melonjak menjadi 4 jam. Namun itulah Indonesia, betapa
meriahnya hari raya di Indonesia, semua masyarakat berkeinginan pulang ke
kampung halaman walaupun dengan waktu yang singkat.
Feature By : Indra_Setiawan_145

Tidak ada komentar:
Posting Komentar