Buku
Melayang
Seperti
biasa, pukul 06.30 bel berbunyi “kringg” semuanya kembali ke kelas dan memulai
pelajaran. Pelajaran pertama adalah kimia. Menurut ku itu pelajaran, yang
paling bete dan membosankan. Tapi aku tetap memperhatikannya. Hari itu saya
duduk dipojok paling belakang bersama sahabat saya cowok namanya nanda, dia
rumahnya sedesa dengan saya. Walaupun kami sahabatan tapi kalau di rumah kami
jarang banget main bareng soalnya rumah saya ke dia lumayan jauh, tapi kalau di
sekolah kemana-mana pasti bareng.
Suatu
hari kelas kami ada jadwal pelajaran kimia lagi dan itu ulangan harian pertama,
semua buku tulis dikumpulkan saya orang jenius yang jarang nyatet berinisiatif
mengumpulkan buku tersebut dibagian tumpukan paling bawah supaya guru tidak
mengambil dan mngecek paling awal,
ternyata inisiatif saya salah yang pertama diambil adalah buku saya, wah
pikiran sudah mulai kacau saat itu juga ya mau bagaimana lagi cuma bisa pasrah
dengan nasib yang akan menimpa pada diri saya.
Saya duduk
paling belakang sendirian soalnya dibagi menjadi dua bagian ada yang diluar
terlebih dahulu menunggu ulangan ini selesai. Setelah buku dicek, guru langsung
memarahi dengan nada yang penuh emosi “kamu mau ulang tapi tidak ada catetan
sama sekali yang mau diujikan sekarang”.(sambil melempar buku kehadapan saya)
Semua
orang di kelas menjadi terdiam hening tidak ada suara apapun kecuali suara
kemarahan dari seorang guru tersebut, saya yang merasa bersalah tertunduk malu
tidak bisa berkata apa-apa. Tetapi ulangan tetap berlangsung tidak tahu nilai
yang keluar seperti apa, yang membuat saya lebih malu lagi peristiwa tersebut
disebar keberbagai kelas jadi semua kelas mengetahui tentang kejadian itu.
Makanya
sampai sekarangpun kalau mengingat peristiwa tersebut mereka akan menjulukinya
“Buku Melayang”
RESTU ADI PRIHATIN
149
Tidak ada komentar:
Posting Komentar