Minggu, 17 Maret 2019

Buku Melayang


Buku Melayang

Seperti biasa, pukul 06.30 bel berbunyi “kringg” semuanya kembali ke kelas dan memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah kimia. Menurut ku itu pelajaran, yang paling bete dan membosankan. Tapi aku tetap memperhatikannya. Hari itu saya duduk dipojok paling belakang bersama sahabat saya cowok namanya nanda, dia rumahnya sedesa dengan saya. Walaupun kami sahabatan tapi kalau di rumah kami jarang banget main bareng soalnya rumah saya ke dia lumayan jauh, tapi kalau di sekolah kemana-mana pasti bareng.
Suatu hari kelas kami ada jadwal pelajaran kimia lagi dan itu ulangan harian pertama, semua buku tulis dikumpulkan saya orang jenius yang jarang nyatet berinisiatif mengumpulkan buku tersebut dibagian tumpukan paling bawah supaya guru tidak mengambil dan mngecek paling awal,  ternyata inisiatif saya salah yang pertama diambil adalah buku saya, wah pikiran sudah mulai kacau saat itu juga ya mau bagaimana lagi cuma bisa pasrah dengan nasib yang akan menimpa pada diri saya.
Saya duduk paling belakang sendirian soalnya dibagi menjadi dua bagian ada yang diluar terlebih dahulu menunggu ulangan ini selesai. Setelah buku dicek, guru langsung memarahi dengan nada yang penuh emosi “kamu mau ulang tapi tidak ada catetan sama sekali yang mau diujikan sekarang”.(sambil melempar buku kehadapan saya)
Semua orang di kelas menjadi terdiam hening tidak ada suara apapun kecuali suara kemarahan dari seorang guru tersebut, saya yang merasa bersalah tertunduk malu tidak bisa berkata apa-apa. Tetapi ulangan tetap berlangsung tidak tahu nilai yang keluar seperti apa, yang membuat saya lebih malu lagi peristiwa tersebut disebar keberbagai kelas jadi semua kelas mengetahui tentang kejadian itu.
Makanya sampai sekarangpun kalau mengingat peristiwa tersebut mereka akan menjulukinya “Buku Melayang”

RESTU ADI PRIHATIN
149

Tidak ada komentar:

Posting Komentar